Thursday, March 11, 2010

Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) Kelas X SMA Wahid Hasyim Malang.

KATA PENGANTAR
ABSTRAK
Wulandari, Eny. 2008. Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) Kelas X SMA Wahid Hasyim Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Soewolo, M. Pd, (II) Dra. Hj. Hawa Tuarita, M. S.

Kata kunci: Motivasi belajar, Hasil belajar, Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI).
Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu tujuan dari pendidikan nasional. Salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memperbaiki sistem pembelajaran yaitu dari pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran yang menitik beratkan pada kompetensi siswa dengan kata lain siswa harus mengalami sendiri tidak dari cerita guru. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Guru Biologi kelas X SMA Wahid Hasyim Malang diketahui bahwa motivasi siswa relatif rendah, sehingga hasil belajar siswa juga rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut yang harus dilakukan adalah meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga hasil belajar siswa juga dapat mengalami peningkatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pembelajaran koopertif model Group Investigation (GI).
Penelitian dilakukan di SMA Wahid Hasyim Malang, pada tanggal 26 Mei 2008 sampai tanggal 10 Juni 2008. Penelitian dilaksanakan dalam rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I membahas tentang pencemaran lingkungan, sedangkan siklus II
membahas tentang Limbah dan produk daur ulang limbah. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Wahid Hasyim Malang. Analisis data dilaksanakan secara deskriptif kualitatif dengan mengkaji semua data yang diperoleh.
Setelah pembelajaran Kooperatif model Group Investigation (GI) diterapkan diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan motivasi serta hasil belajar siswa. Setjo (2005:6) menyatakan bahwa berbagai metode untuk menimbulkan motivasi suatu materi pembelajaran, salah satu strategi motivasi model ARCS. Model ARCS dilandasi oleh teori motivasi
oleh Keller. Peningkatan nilai motivasi belajar siswa, aspek attention (perhatian) pada siklus I sebesar 3,98 pada siklus II menjadi 4,1, Relevance (keterkaitan) pada siklus I sebesar 4,23 dan pada siklus II skor tetap 4,23, Confidence (percaya diri) pada siklus I sebesar 3,52 dan pada siklus II menjadi 3,63. Satisfaction (kepuasan) pada siklus I sebesar 3,79 dan meningkat pada siklus II menjadi 4,01. Hasil belajar yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor juga mengalami
peningkatan. Dalam aspek kognitif terjadi peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa yaitu 84,6% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Pada aspek afektif terjadi peningkatan, keberanian mengemukakan pendapat sebesar 0,35 dari siklus I ke siklus II, keaktifan bertanya/ peran meningkat sebesar 0,49, skor rata-rata menghargai pendapat orang tidak terjadi peningkatan antara siklus I ke siklus II yaitu 4,23. Kerjasama dalam kelompok meningkat sebesar 0,39, inisiatif/ kreativitas meningkat sebesar 1,08, dan skor rata rata untuk rasa ingin tahu meningkat sebesar 0,7. Pada aspek psikomotor juga terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II, menentukan sub topik dan organisasi ke dalam kelompok-kelompok meningkat sebesar 0,08, merencanakan penyelidikan meningkat sebesar 0,16, melaksanakan rencana penyelidikan meningkat sebesar 0,85, skor untuk merencanakan presentasi meningkat sebesar 0,31, mempresentasikan laporan hasil penyelidikan meningkat sebesar 0,62, evaluasi penyelidikan meningkat sebesar 0,38.
Perbandingan motivasi dan hasil belajar siswa antara sebelum dengan sesudah tindakan, mengalami peningkatan. Ketuntasan kelas siswa mengenai hasil belajar kognitif siswa sebelum tindakan adalah sebesar 80% yaitu pada topic plantae. Dan pada siklus I ketuntasan kelas siswa sebesar 84,6%, dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Mengenai motivasi belajar berdasarkan hasil observasi peneliti sebelum tindakan menunjukkan bahwa motivasi siswa rendah hal ini bisa terlihat dari aktivitas siswa, antara lain: tidak tepat waktu pada saat mengerjakan tugas, pada saat kegiatan pembelajaran siswa kurang memperhatikan penjelasan dari guru, siswa gaduh pada saat  pembelajaran, dan siswa bersifat individu dalam menyelesaikan tugas/masalah. Setelah diberi tindakan maka motivasi siswa meningkat. Peningkatan motivasi siswa ini bisa dilihat pada
Lampiran 26. Sebaiknya pada saat Guru menerapkan model pembelajaran Group Investigation (GI), Guru lebih membimbing siswa pada saat menentukan sub topik dan pengorganisasiannya ke dalam kelompok agar siswa tidak merasa kesulitan tentang apa yang harus dikerjakan sehingga hasil belajar yang didapatkan dapat maksimal. Karena menentukan sub topik dan pengorganisasiannya ke dalam kelompok merupakan kegiatan awal dari Group Investigation (GI) yang akan berpengaruh pada tahap selanjutnya.