Thursday, December 10, 2009

Strategi Pembelajaran Kooperatif Jigsaw


Strategi pembelajaran kooperatif jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas dan kemudian diadaptasikan oleh Slavin dan kawan-kawannya di Universitas John Hopkins (Nurhadi, dkk., 2004). Jigsaw adalah suatu strategi pembelajaran yang dirancang agar siswa mempelajari informasi-informasi yang divergen dan tingkat tinggi melalui kerja kelompok (Susanto, 1999 dalam Astutik, 2006). Selain itu, strategi pembelajaran kooperatif jigsaw dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Agama, Bahasa, dan lain-lain serta cocok untuk semua kelas atau tingkatan.
Nurhadi, dkk. (2004) menjelaskan bahwa melalui strategi pembelajaran jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Selanjutnya guru memberikan bahan akademik dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bahan akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam ini disebut “kelompok ahli” (Expert group). Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula (home teams) dan para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari. Jadi dalam strategi pembelajaran kooperatif jigsaw terdapat dua jenis kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok ahli yang mampu dalam bagian tertentu dalam topik yang diberikan akan bertemu dengan kelompok ahli yang telah mempelajari bagian yang berbeda di dalam kelompok asal.
Menurut Aronson (2007), terdapat sepuluh tahap yang mudah dilakukan dalam penerapan jigsaw, yaitu:
1.      Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang. Siswa diacak sehingga diperoleh kelompok yang heterogen.
2.      Guru menunjuk salah satu siswa dalam setiap kelompok sebagai ketua kelompok.
3.      Guru membagi topik yang dipelajari menjadi subtopik-subtopik.
4.      Guru menyuruh masing-masing anggota kelompok untuk bertanggung jawab mempelajari satu subtopik
5.      Guru memberi waktu pada siswa untuk membaca sekilas tentang subtopik yang menjadi tanggung jawabnya minimal dua kali sehingga siswa paham tentang apa yang akan dipelajarinya.
6.      Masing-masing siswa yang mempunyai subtopik sama membentuk kelompok ahli untuk mendiskusikan subtopiknya.
7.      Masing-masing anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal.
8.      Guru menyuruh masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil diskusinya dari kelompok ahli dan anggota kelompok asal boleh bertanya.
9.      Guru mengobservasi proses dalam setiap kelompok dan guru memberikan arahan jika ada kelompok yang mengalami kesulitan.
10.  Guru memberikan kuis/tes sehingga siswa sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya permainan, tetapi merupakan proses belajar.
 Jigsaw merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang sangat sesuai dengan karakteristik siswa. Strategi ini dapat mengoptimalkan semua potensi yang ada dalam diri siswa dalam belajar, karena selama penyajiannya melibatkan siswa secara aktif, baik secara mental maupun secara fisik. Dalam pembelajaran ini, tanggung jawab siswa terhadap proses belajar lebih besar karena siswa lebih banyak bekerja daripada sekedar medengarkan informasi. Siswa dapat dilatih mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pola pikir kreatif. 
Terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh dari penerapan jigsaw bagi guru dan siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional (Aronson, 2007). Keuntungan tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Dengan jigsaw, siswa lebih mudah memahami materi pelajaran.
2. Guru dapat menikmati pekerjaannya melalui penerapan jigsaw.
3. Jigsaw dapat dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.
4. Jigsaw efektif jika diterapkan di dalam kelas.