Monday, November 30, 2009

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Waterman (dalam Zubaidah, 2006:1) menyatakan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang pada mulanya dikembangkan untuk pembelajaran biologi medis pada tahun 1980-an. Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan salah satu pilihan pendekatan pembelajaran yang paling menarik dan berdaya guna selama lebih dari 30 tahun terakhir. PBM merupakan istilah umum dengan bentuk yang lebih khusus antara lain penelitian, studi kasus, desain terbimbing, dan proyek desain rekayasa.
Menurut Nurhadi (2004:56) pengertian PBM adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi palajaran.
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Peran guru dalam PBM adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan masalah kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri (Nurhadi, 2004:56-57).
Menurut Nurhadi (2004:60) tahapan pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Tahapan Tingkah laku guru
Tahap 1:
Orientasi siswa kepada masalah

Tahap 2:
Mengorganisasi siswa untuk belajar

Tahap 3:
Membimbing penyedikan individual dan kelompok

Tahap 4:
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Tahap 5:
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru menjelaskan tujuan Pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar telibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya.

Guru membantu siswa memesahkan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.

Guru membantu siswa melakukan refleksi/evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

Menurut Arends (2004:157) ciri-ciri PBM adalah seperti berikut.
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah
PBM mengorganisasi pertanyaan dan masalah yang penting secara sosial dan pribadi bermakna bagi siswa. Pertanyaan dan masalah tersebut hendaknya terkait dengan situasi kehidupan nyata, diupayakan tidak memerlukan jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk pertanyaan dan masalah tersebut.
2. Berfokus pada kaitan antar disiplin ilmu
Masalah aktual hendaknya dipilih untuk dikaji pemecahannya, yang dapat ditinjau dari segi, meskipun PBM berpusat pada mata pelajaran tertentu (seperti IPA, matematika, atau IPS). Sebagai contoh, masalah pencemaran, dapat ditinjau dari segi biologi, ekonomi, kesehatan, sosial, dan sebagainya.
3. Penyelidikan autentik
Penyelidikan untuk mencari penyelesaian masalah yang nyata. Siswa hendaknya menganalisis dan menentukan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode yang digunakan tergantung pada masalah yang sedang dikaji .
4. Produk atau hasil karya yang dihasilkan dan dipamerkan
PBM menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam berbagai alternatif bentuk seperti presentasi laporan, transkip debat, model fisik, video, program komputer, atau yang lain. Produk tersebut bertujuan untuk menunjukkan sesuatu yang telah dilakukan siswa pada siswa-siswa yang lain.
5. Kerjasama
PBM juga dicirikan oleh adanya kerjasama antar siswa, dalam bentuk berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama antar siswadapat memberikan motivasi untuk bekerja bersama dalam tugas-tugas yang lebih kompleks dan meningkatkan peluang untuk berbagi inkuiri dan berdialog untuk mengembangkan keterampilan sosial.
Pembelajaran kooperatif STAD lebih menekankan siswa untuk saling bekerjasama dalam kelompok untuk berlatih menyelesaikan masalah, sedangkan pendekatan PBM digunakan untuk merangsang berpikir kritis dalam penyelesaian suatu masalah yang diangkat. Sintaks umum gabungan anatara STAD dan PBM ditunjukkan pada Tabel 2.3.